Selasa, 15 Februari 2011

PROFIL KABUPATEN SUBANG

Nama Resmi
: Kabupaten Subang
Ibukota
: Subang
Provinsi 
: Jawa Barat
Batas Wilayah
: Utara  : Laut Jawa
Selatan : Kabupaten Bandung Barat
Barat  : Kabupaten Purwakarta Dan Karawang
Timur : Kabupaten Sumedang Dan Indramayu
Luas Wilayah
: 205.176 Ha
Jumlah Penduduk
: 1.407.000 (Tahun 2003)
Jumlah Kecamatan
: 30
Website


Sejarah
Prasejarah
Bukti adanya kelompok masyarakat pada masa prasejarah di wilayah Kabupaten Subang adalah ditemukannya kapak batu di daerah Bojongkeding (Binong), Pagaden, Ka-lijati, dan Dayeuhkolot (Sagalaherang). Temuan benda-benda prasejarah bercorak neolitikum ini menandakan bahwa saat itu di wilayah Kabupaten Subang sekarang sudah ada kelompok masyarakat yang hidup dari sektor pertanian dengan pola sangat sederhana. Selain itu, dalam periode prasejarah juga berkembang pula pola kebudayaan perunggu yang ditandai dengan penemuan situs di Kampung Engkel, Sagalaherang. :

Hindu
Pada saat berkembangnya corak kebudayaan Hindu, wilayah Kabupaten Subang menjadi bagian dari 3 kerajaan, yakni Tarumanagara, Galuh, dan Pajajaran. Selama berkuasanya 3 kerajaan tersebut, dari wilayah Kabupaten Subang diperkirakan sudah ada kontak-kontek dengan beberapa kerajaan maritim hingga di luar kawasan Nusantara. Peninggalan berupa pecahan-pecahan keramik asal Cina di Patenggeng (Kalijati) membuktikan bahwa selama abad ke-7 hingga abad ke-15 sudah terjalin kontak perdagangan dengan wilayah yang jauh. Sumber lain menyebutkan bahwa pada masa tersebut, wilayah Subang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda. Kesaksian Tome’ Pires seorang Portugis yang mengadakan perjalanan keliling Nusantara menyebutkan bahwa saat menelusuri pantai utara Jawa, kawasan sebelah timur Sungai Cimanuk hingga Banten adalah wilayah kerajaan Sunda.:

Islam
Masa datangnya pengaruh kebudayaan Islam di wilayah Subang tidak terlepas dari peran seorang tokoh ulama, Wangsa Goparana yang berasal dari Talaga, Majalengka. Sekitar tahun 1530, Wangsa Goparana membuka permukiman baru di Sagalaherang dan menyebarkan agama Islam ke berbagai pelosok Subang. :

Kolonialisme
Pasca runtuhnya kerajaan Pajajaran, wilayah Subang seperti halnya wilayah lain di P. Jawa, menjadi rebutan berbagai kekuatan. Tercatat kerajaan Banten, Mataram, Sumedanglarang, VOC, Inggris, dan Kerajaan Belanda berupaya menanamkan pengaruh di daerah yang cocok untuk dijadikan kawasan perkebunan serta strategis untuk menjangkau Batavia. Pada saat konflik Mataram-VOC, wilayah Kabupaten Subang, terutama di kawasan utara, dijadikan jalur logistik bagi pasukan Sultan Agung yang akan menyerang Batavia. Saat itulah terjadi percampuran budaya antara Jawa dengan Sunda, karena banyak tentara Sultan Agung yang urung kembali ke Mataram dan menetap di wilayah Subang. Tahun 1771, saat berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sumedanglarang, di Subang, tepatnya di Pagaden, Pamanukan, dan Ciasem tercatat seorang bupati yang memerintah secara turun-temurun. Saat pemerintahan Sir Thomas Stamford Raffles (1811-1816) konsesi penguasaan lahan wilayah Subang diberikan kepada swasta Eropa. Tahun 1812 tercatat sebagai awal kepemilikan lahan oleh tuan-tuan tanah berlanjut dengan direbutnya pangkalan udara Kalijati. Direbutnya pangkalan ini menjadi catatan tersendiri bagi sejarah pemerintahan Hindia Belanda, karena tak lama kemudian terjadi kapitulasi dari tentara Hindia Belanda kepada tentara Jepang. Dengan demikian, Hindia Belanda di Nusantara serta merta jatuh ke tangan tentara pendudukan Jepang. Para pejuang pada masa pendudukan Belanda melanjutkan perjuangan melalui gerakan bawah tanah. Pada masa pendudukan Jepang ini Sukandi (guru Landschbouw), R. Kartawiguna, dan Sasmita ditangkap dan dibunuh tentara Jepang.:

Nasionalisme
Tidak banyak catatan sejarah pergerakan pada awal abad ke-20 di Kabupaten Subang. Namun demikian, Setelah Kongres Sarekat Islam di bandung tahun 1916 di Subang berdiri cabang organisasi Sarekat Islam di Desa Pringkasap (Pabuaran) dan di Sukamandi (Ciasem). Selanjutnya, pada tahun 1928 berdiri Paguyuban Pasundan yang diketuai Darmodiharjo (karyawan kantor pos), dengan sekretarisnya Odeng Jayawisastra (karyawan P & T Lands). Tahun 1930, Odeng Jayawisastra dan rekan-rekannya mengadakan pemogokan di percetakan P & T Lands yang mengakibatkan aktivitas percetakan tersebut lumpuh untuk beberapa saat. Akibatnya Odeng Jayawisastra dipecat sebagai karyawan P & T Lands. Selanjutnya Odeng Jayawisastra dan Tohari mendirikan cabang Partai Nasional Indonesia yang berkedudukan di Subang. Sementara itu, Darmodiharjo tahun 1935 mendirikan cabang Nahdlatul Ulama yang diikuti oleh cabang Parindra dan Partindo di Subang. Saat Gabungan Politik Indonesia (GAPI) di Jakarta menuntut Indonesia berparlemen, di Bioskop Sukamandi digelar rapat akbar GAPI Cabang Subang untuk mengenukakan tuntutan serupa dengan GAPI Pusat.:

Jepang
Pendaratan tentara angkatan laut Jepang di pantai Eretan Timur tanggal 1 Maret 1942 berlanjut dengan direbutnya pangkalan udara Kalijati. Direbutnya pangkalan ini menjadi catatan tersendiri bagi sejarah pemerintahan Hindia Belanda, karena tak lama kemudian terjadi kapitulasi dari tentara Hindia Belanda kepada tentara Jepang. Dengan demikian, Hindia Belanda di Nusantara serta merta jatuh ke tangan tentara pendudukan Jepang. Para pejuang pada masa pendudukan Belanda melanjutkan perjuangan melalui gerakan bawah tanah. Pada masa pendudukan Jepang ini Sukandi (guru Landschbouw), R. Kartawiguna, dan Sasmita ditangkap dan dibunuh tentara Jepang.:

Merdeka
Proklamasi Kemerdekaan RI di Jakarta berimbas pada didirikannya berbagai badan perjuangan di Subang, antara lain Badan Keamanan Rakyat (BKR), API?Pesindo, Lasykar Uruh, dan lain-lain, banyak di antara anggota badan perjuangan ini yang kemudian menjadi anggota TNI. Saat tentara KNIL kembali menduduki Bandung, para pejuang di Subang menghadapinya melalui dua front, yakni front selatan (Lembang) dan front barat (Gunung Putri dan Bekasi). Tahun 1946, Karesidenan Jakarta berkedudukan di Subang. Pemilihan wilayah ini tentunya didasarkan atas pertimbangan strategi perjuangan. Residen pertama adalah Sewaka yang kemudian menjadi Gubernur Jawa Barat. Kemudian Kusnaeni menggantikannya. Bulan Desember 1946 diangkat Kosasih Purwanegara, tanpa pencabutan Kusnaeni dari jabatannya. Tak lama kemudian diangkat pula Mukmin sebagai wakil residen. Pada masa gerilya selama Agresi Militer Belanda I, residen tak pernah jauh meninggalkan Subang, sesuai dengan garis komando pusat. Bersama para pejuang, saat itu residen bermukim di daerah Songgom, Surian, dan Cimenteng. Tanggal 26 Oktober 1947 Residen Kosasih Purwanagara meninggalkan Subang dan pejabat Residen Mukmin yang meninggalkan Purwakarta tanggal 6 Februari 1948 tidak pernah mengirim berita ke wilayah perjuangannya. Hal ini mendorong diadakannya rapat pada tanggal 5 April 1948 di Cimanggu, Desa Cimenteng. Di bawah pimpinan Karlan, rapat memutuskan : 1.Wakil Residen Mukmin ditunjuk menjadi Residen yang berkedudukan di daerah gerilya Purwakarta. 2.Wilayah Karawang Timur menjadi Kabupaten Karawang Timur dengan bupati pertamanya Danta Gandawikarma. 3.Wilayah Karawang Barat menjadi Kabupaten Karawang Barat dengan bupati pertamanya Syafei. Wilayah Kabupaten Karawang Timur adalah wilayah Kabupaten Subang dan Kabupaten Purwakarta sekarang. Saat itu, kedua wilayah tersebut bernama Kabupaten Purwakarta dengan ibukotanya Subang. Penetapan nama Kabupaten Karawang Timur pada tanggal 5 April 1948 dijadikan momentum untuk kelahiran Kabupaten Subang yang kemudian ditetapkan melalui Keputusan DPRD No. : 01/SK/DPRD/1977.:

Kabupaten
Kabupaten Subang merupakan salah satu Kabupaten di Propinsi Jawa Barat yang terletak di bagian utara. Sebagai daerah yang berdekatan dengan pusat-pusat pertumbuhan (Jakarta dan Bandung), Kabupaten Subang sangat strategis, khususnya untuk pengembangan sektor-sektor ekonomi. Sumber daya alam yang dimiliki secara geografis sangat lengkap mulai dari kawasan pegunungan di sebelah selatan, pedataran di bagian tengah dan pantai di bagian utara. Dengan keanekaragaman sumber daya alam dan dinamika sosial yang berkembang saat ini Kabupaten Subang sering kali di-sebut sebagai “miniatur Jawa Barat?. Kabupaten Subang dibentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1968 tentang Pembentukan Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Subang. Pembentukan ini sangat terkait dengan perkembangan wilayah yang sejalan dengan sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Dalam implementasi pemerintahan daerah, Kabupaten Subang secara administratif terbagi atas 22 kecamatan yang terdiri atas 252 desa dan 8 kelurahan. Sudah sejak lama Kabupaten Subang sikenal sebagai salah satu penghasil padi terbesar di Jawa Barat, bahkan di tingkat nasional. Walaupun demikian, secara bertahap struktur ekonomi daerah ini bergerak dinamis melalui pengembangan sektor non pertanian, antara lain industri dan pariwisata. Dinamika ini berdampak pada komposisi penggunaan lahan yang didominasi lahan pertanian. Pelaksanaan pemerintahan di daerah sesuai dengan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah membuka berbagai peluang bagi pengembangan sektor-sektor produktif. Saat ini implementasi Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 telah menghasilkan berbagai kemajuan, tak hanya dari aspek ekonomi, tapi juga dalam hal pengembangan otonomi. Dari aspek kependudukan Kabupaten Subang bukanlah termasuk wilayah yang terlalu padat. Menurut hasil Sensus Penduduk tahun 2000, jumlah penduduk Kabupaten Subang mencapai 1.245.166 jiwa. Pada tahun 2002, jumlah penduduk Kabupaten Subang menjadi 1.348.686 jiwa. Walaupun terdapat kenaikan, namun pertumbuhan penduduk pertahun dapat ditekan hingga 0,93% pada tahun 2000. Selama lima tahun terakhir rata-rata laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Subang mencapai 4,0%, dengan angka pertumbuhan tertinggi pada tahun 2003 sebesar 7,71. Adapun pendapatan perkapita masyarakat Kabupaten Subang pada tahun 2003 mencapai Rp 4.213.000. Kebijaksanaan utama pembangunan di Kabupaten Subang hingga pencapaian visi lebih diarahkan pada perkembangan sumber daya manusia yang mengacu pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Sektor pendidikan, kesehatan daya beli masyarakat dengan sektor–sektor ekonomi makro diarahkan untuk mewujudkan visi dan misi pembangunan yang ditetapkan melalui Propeda. :

Arti Logo

· Perisai Bersudut Lima : Menggambarkan makna keselamatan negara, bangsa, agama, masyarakat, dan agama.
· Pohon Beringin Bergelombang 17 Dengan Akar Tunjang Delapan : Menggambarkan aspek sejarah Kabupaten Subang (Kutawaringin);
bangsa yang berjiwa Pancasila dan semangat Proklamasi 17 Agustus 1945; pemerintahan sebagai pelindung rakyat; dan pelaksanaan pembangunan daerah bidang material maupun spiritual.
·Benteng Berkepala Lima Serta Benteng Bagian Bawah Berbata Empat dan Lima di Bawah Pohon Beringin : Menggambarkan Pancasila sebagai landasan idiil dan Undang-undang Dasar 1945 yang berkaitan pula dengan makna pembangunan material dan spiritual.
·Bintang Kuning Bersudut Lima : Menggambarkan karakteristik masyarakat Kabupaten Subang yang selalu bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan mengangungkan agama.
· “Benteng Pancasila : Menggambarkan warga Kabupaten Subang yang senantiasa membentengi Pancasila sebagai landasan idiil negara dari pihak-pihak yang akan menyelewengkannya. Teks ini juga menggambarkan tekad masyarakat Kabupaten Subang untuk menjadikan Pancasila sebagai benteng mental dalam mencapai masyarakat adil dan makmur yang diridoi Tuhan yang Maha Esa.
“Karya Utama Satya Negara : Menggambarkan keutamaan karya untuk kepentingan negara, bangsa, dan agama.
· Kuning mas pada pinggir perisai, pinggir pohon beringin, dan garis pinggir benteng, serta bintang : Menggambarkan keluhuran budi dan kebesaran jiwa.
·Hijau tua pada dasar perisai : Menggambarkan kesuburan tanah.
·Warna lain :
Coklat               : Menggambarkan kawasan pedataran
Hijau muda       : Menggambarkan kawasan pegunungan
Biru                   : Menggambarkan kawasan pantai

SEJARAH SINGKAT DESA SUBANG
Tersebutlah kisah, Wirananggapati putra raja Mataram. Beliau meminta ijin kepada ibunya untuk mengembara ke negeri asing (tatar Sunda) ibunya merestui kepergian Wirananggapati dan membekalinya berupa pusaka karembong lokcan.

Singkat cerita sampailah Raden Wirananggapati ke suatu pesantren yang berada di Desa Ciketug (Pamulihan). Pemimpin di pesantren itu adalah Kiai Jabasraga yang mempunyai seirang anak bernan Nyi Suka Inten. Para santri di pesantren menghina dan memperolok-olok Raden Wirananggapati yang terlihat kotor dan kumel. Dalam keadaan prihatin Raden Wirananggapati diberi tugas menjaga ladang Kiai Jabasraga.
Nyi Suka Inten tertarik oleh kepribadian Raden Wirananggapati, begitu pula Kiai Jabasraga mengetahui kisah kasih mereka dan merestuinya untuk bersanding di pelaminan. Suatu waktu Kiai Jabasraga menyuruh Raden Wirananggapati berkunjung ke Mataram.

Di Mataram Raden Wirananggapati berhasil melumpuhkan seekor banteng yang mengamuk dan memporak porandakan paseban dengan “karembong lokcan”. Melihat pusaka karemobong lokcan Raden Wirananggapati oleh raja Mataram diakui sebagai anak, yang kemudian ditugaskan menjadi Bupati di Subang.
Raden Wirananggapati semula bernama “Raden Mas Muryah Martapura” yang bergelar Pangeran Adipati Anom. Beliau adalah perwaris tahta kerajaan Mataram kedua dari Panembahan Krapyak yang bergelar Sesuhunan Adiprabu Anyakrawati Senopati Ingalaga.

Untuk lebih jelasnya mari kita simak dan telusuri asal mula sejak berdirinya kerajaan Mataram.
Pada tahun 1586 M Sutawijaya dan Senopati dalam peperangan berhasil merebut kekuasaan kerajaan Pajang. Dengan demikian Mataram yang tadinya hanya berbentuk Kadipaten yang tunduk kepada kerajaan Pajang, sekarang naik kedudukannya menjadi kerajaan. Maka berdirilah kerajaan Mataram yang pertama dengan rajanya Senopati dikenal dengan gelar Panembahan Senopati. 

Setelah Penambahan Senopati mangkat, digantikan oleh putranya yang bernama Raden Mas Jelang dan setelah menjadi raja Mataram kedua bergelar Panembahan Kerapyak atau Sesuhunan Anyakrawati senopati Ingalaga Mataram. Panembahan Krapyak mempunyai mempunyai dua istri, yang pertama bernama Ratu Tulung Ayu sebagai prameswari atau disebut Ratu Kulon, yang kedua Ratu Adi yang statusnya sebagai istri selir. Dari istri pertama Ratu Tulang Ayu (prameswari) mendapat tiga anak yaitu satu. RM. Mutyah Martapura/Adipati Anom, dua Adipati Pesir dan tiga Soraya.
 
Sedangkan dari Ratu Adi sebagai istri selir dapat anak sati yaitu RM. Rangsang atau Sujatmko Abdurahman.
Nah, RM. Muryah Martapura atau Adipati Anom inilah yang kelak bernama Wirananggapati yang menjadi kuwu (dalem) pertama Desa Subang dan cikal bakal adanya Desa Subang. Sedangkan RM. Rangsang atau Sujatmiko Abdurahman kelak menjadi Sultan Agung Raja Mataram ketiga.
Subang, Februari 2001
 
Tim Penyusun
Nara Sumber : 
1. Amsor M. Jaya D
2. Ishak Ranasasmita
3. H. Hasan
4. Jakaria

LAMBANG DESA SUBANG

1. Arti Unsur-unsur
• Dasar
Perisai berbentuk lambang negarai Republik Indonesia, berarti tenang, penegak, pengaman dan pengawal Pancasila dan UUD 45 serta seagai lambang keadaan yang selalu aman tentram dan sejahtera.
• Monumen MBKD
Wujud nyata dari kepedulian masyarakat Subang, pada perjuangan bangsa. Dalam serjarah perjuangan leluhur Subang maupun masa perjuangan dalam merebut kemerdekaan, masyarakat Subang turut andil mengusir para penjajah, diharapkan nilai-nilai juang para pendahulu maupun sifat-sifat patriot tetap terpatri di sanubari masyarakat Subang.
• Sawah dan Air
Cermin dari kehidupan masyarakat yang agraris.
• Bokor Kuning
Wadah dari semua aktivitas masyarakat Subang yang didasari dengan nilai-nilai religius serta keimanan dan ketaqwaan yang kokoh.
• Padi dan Kapas
Lambang kesuburan dan kemakmuran sandang dan pangan.
• Pengikat
Segala gerak dan langkah diikat kuat dengan norma-norma agama serta hukum dan perundang-undangan yang berlaku.
• Selendang/Karembong lokcan
Sebagai pusaka dari Raden Wirananggapati yang dipergunakan untuk mengusir semua “KARAMAN”, serta dengan gagah berani menegakan keadilan dan melenyapkan kebatilan.
Berkat kibasan karembong lokcan serta tekad yang kuat, sedikit demi sedikit terbentuklah satu pedesaan, tepatnya tahun 16502 M yang diberi nama SUBANG
• Motto
 
“SUGRI WALAGRI MALAR WALATRA”
Masyarakat yang sehat, untuk mencipatkan kesejahteraan lahir batin yang merata.
2. Jumlah Kesatuan Unsur
• Perisai 1 (satu) buah
• Monumen 1 (satu) buah
• Tangga 5 (lima) buah
• Air 4 (empat) buah
• Bokor 1 (satu) buah
• Padi 17 (tujuh belas) butir
• Kapas 8 (delapan) buah
• Ikatan 5 (lima) buah
• Selendang 1 (satu)
-
Jumlah satu – melambangkan kesatuan dan persatuan.
-
Jumlah empat – melambangkan empat penjuru angin, Utara – Selatan – Barat – Timur.
-
Jumlah lima – melambangkan Pancasila sebagai dasar palsafah Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebagai dasar dan palsafah yang hidup dalam jiwa dan perbuatan.
-
Tujuh belas butir padi, dan delapan buah kapas, melambangkan tanggal dan bulan hari keramat bagi bangsa Indonesia, yaitu Proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945.
3. Warna yang Dipakai
• Hijau berarti kemakmuran, kesejukan, ketenangan dan harapan.
• Putih berarti tegak, kuat, kebenaran, ampuh dan teguh.
• Hitam berarti kesetiaan, ketaatan, kepatuhan, kebesaran jiwa, berpandangan luas, berperasaan halus, rendah hati dan berjiwa besar.
• Kuning emas berarti kesejahteraan, keagungan, keluhuran dan keluhungan.
4. Makna Keseluruhan
Dengan modal semangat juang untuk menegakan keadilan dan melenyapkan kebatilan, ditunjang dengan jiwa yang sehat, serta keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, sanggup berjuang membangun untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur serta merata lahir batin, berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

URAIAN TENTANG ADAT MASYARAKAT DESA SUBANG
Kebiasaan masyarakat Desa Subang yang ada dan dikategorikan sebagai adat desa, diantaranya ada yang hampir punah dan ada pula yang masih tetap dilaksanakan terus oleh sebagian kelompok masyarakat, yaitu :
1. Sidekah Bumi
2. Sidekah Tulak Bala
3. Sidekah Tilawat
4. Ngalayad Ka Anu Maoteun/Meninggal Dunia (Ta’ziah)
5. Nyambungan kanu Hajatan
6. Budaya Ngoprek
7. Budaya Genjringan dan Rudatan
8. Budaya Ngayun

KEPALA DESA SUBANG DARI TAHUN 1630 – SEKARANG
No Urut Tahun Menjabat Nama Kuwu (Dalem) Lamanya Menjabat Dimakamkan
1 1630 s.d 1660 Wirananggapati 30 tahun Di Cibabangsalan
2 1660 s.d 1690 Wisantaka Janad 30 tahun Di Cibabangsalan
3 1690 s.d 1725 Singajaya 35 tahun Di Ngohol
4 1725 s.d 1755 Jayadirana 30 tahun Di Cimanggang
5 1755 s.d 1780 Buyut Bekel 25 tahun Di Cikembang
6 1780 s.d 1820 Indramanggala 40 tahun Di Burujul (Cilimus)
7 1820 s.d 1850 Suradipa 30 tahun Di Caluncung
8 1850 s.d 1880 Raksamanggala 30 tahun Di Caluncung
9 1880 s.d 1905 Martamanggala 25 tahun Di Lengkong
10 1905 s.d 1927 Ranasasmita 22 tahun Di Lenyor
11 1927 s.d 1934 Natamanggala 7 tahun Di Ngohol
12 1934 s.d 1940 Sastrasantana 6 tahun Di Ngohol
13 1940 s.d 1961 Sastrasasmita 21 tahun Di Ngohol
14 1961 s.d 1966 Muh. Juaeni 5 tahun Di Ngohol
15 1966 s.d 1967 Koma (Pejabat ABRI) 1 tahun Di Tangkolo
16 1967 s.d 1976 H. Muh. Jalal 9 tahun Di Ngohol
17 1976 s.d 1985 Mashudi Syamsudin 9 tahun Di Ngohol
18 1985 s.d 1994 Eho Rohadi 9 tahun Di Ngohol
19 1994 s.d 1995 Drs. Komarudin 1 tahun Masih hidup
20 1995 s.d 2003 E. Adnari Sasmita 8 tahun Masih hidup
21 2003 s.d E. Sumarda – Masih menjabat
Keterangan :
R. Wirananggapati : Adalah Kuwu (Dalem) pertama, dan cikal bakal terbentuknya Desa Subang. Waktu itu wilayahnya mencakup Kecamatan Subang Sekarang.


1 komentar:

  1. Salam budaya dari Dukuh Karangsari RT 003 RW 001 Desa Clering - Kecamatan Donorojo - Kabupaten Jepara - Provinsi Jawa Tengah - Indonesia, dan selamat berkarya untuk mas Awih...

    BalasHapus